Sebagaimana diketahui bahwa pertanian merupakan sektor yang terpenting bagi kehidupan bangsa, Kalau dahulu pertanian hanya menyediakan food, feed, dan fiber tapi sekarang beban yang diemban pertanian juga semakin berat, pertanian sekarang juga dituntut untuk menyuplai biofuel maupun biofarming. Jelas beban ini tidak mudah untuk diemban oleh sektor pertanian. Tentu beban tambahan ini akan menimbulkan gejolak di sektor pertanian itu sendiri. Sebagai contoh ketika akhir 2007 lalu, harga komoditas jagung dipasaran dunia melonjak, hal ini dikarenakan Amerika Serikat yang merupakan negara penghasil utama jagung “menahan” untuk menjual jagungnya ke pasaran dunia, hal ini dikarenakan Amerika Serikat menjadikan jagung selain sebagai pangan juga sebagai biofuel, bahan bakar yang digadang-gadang ramah lingkungan. Dari contoh ini nampak bahwa telah terjadi pergeseran pemanfaatan komoditas pertanian, jagung yang dahulu sebagai pangan dan pakan sekarang juga mulai dimanfaatkan sebagai energy (biofuel).
Jelas tuntutan yang semakin besar ini menuntut juga peranan para petani, kalangan akademisi, pengusaha, dan pemerintah dalam bersinergi untuk bahu-membahu dalam mengemban amanah yang begitu berat seiring perkembangan zaman. Tapi sebagaimana diketahui pula bahwa sektor pertanian bukanlah sektor yang tanpa masalah. Kepemilikan lahan yang begitu sempit di Jawa, harga eceran pupuk yang melonjak, harga gabah yang malah turun, dan setumpuk masalah lainnya. Bahkan sekitar 75 % petani yang ada di Indonesia merupakan petani-petani yang sudah tua (senior), walaupun petani senior tersebut menang dalam hal pengalaman tapi dari faktor produktivitas kerja jelas semakin menurun. Hal inilah yang seharusnya menuntut para pemuda-pemuda bangsa untuk menggantikan para senior di bidang pertanian, regenerasi perlu segera dilakukan.
Tapi ironisnya minat pemuda terhadap pertanian begitu rendah, salah satu indikatornya adalah minimnya minat generasi muda terhadap fakultas pertanian, terutama di perguruan negeri swasta. Hal ini juga merupakan masalah dibidang pertanian. Regenerasi ini perlu segera dilakukan karena nantinya diperlukan pemegang estafet untuk keberlanjutan pertanian di Indonesia, dan sebagian para pemuda diharapkan selayaknya membekali dirinya agar mampu menjadi sumber daya manusia yang handal agar mampu berkompetisi dalam mengembangkan pertanian di negara ini.
Tuntutan ACFTA, Green Capitalisme, dan persaingan global lainya juga mendesak kita untuk mengambil peranan yang lebih besar di bidang pertanian. Jangan sampai Indonesia yang terhampar luas dari Sabang hingga Merauke yang digadang-gadang menjadi negara agraris malah menjadi negara jajahan bagi produk pertanian negara lain dan sangat disayangkan bila petani menjadi buruh di lahannya sendiri.
Novendra Cahyo N
Mahasiswa S-1 Penyuluhan dan Komunikasi Pertanian
Universitas Gadjah Mada


00.11
PPNSI SURABAYA

Posted in:
0 komentar:
Posting Komentar