Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Jumat, 27 Mei 2011

BUDIDAYA BANDENG

I. Pendahuluan.
Ikan bandeng merupakan adalah satu jenis ikan penghasil protein hewani yang tinggi. Usaha intensifikasi budidaya perlu dilakukan karena rendahnya produktivitas bandeng dengan budidaya tradisional. Peningkatan sistem budidaya juga harus diikuti dengan penggunaan teknologi baru.
PT. NATURAL NUSANTARA memberikan teknologi yang diperlukan dengan prinsip K-3 (Kuantitas, Kualitas dan Kesehatan).

II. Sifat Biologis.
Bandeng termasuk golongan ikan herbivora , yaitu bangsa ikan yang mengkonsumsi tumbuhan. Mampu mencapai berat rata-rata 0,6 kg pada usia 5 - 6 bulan dengan pemeliharaan yang intensif.

III. Penyediaan Benih. 
Usaha penyediaan benih (nener) secara kontinyu dengan mutu yang baik dilakukan dengan sistem pembenihan yang intensif pada kolam-kolam khusus, yaitu kolam pematangan induk, pemijahan, peneneran dan kolam pembsaran. Dalam pembenihan bandeng langkah yang dilakukan adalah :
1. Pemilihan induk yang unggul . Induk yang unggul akan menurunkan sifat-sifatnya kepada keturunannya, Ciri-cirinya :
- bentuk normal, perbandingan panjang dan berat ideal.
- ukuran kepala relatif kecil, diantara satu peranakan pertumbuhannya paling cepat.
- susunan sisik teratur, licin, mengkilat, tidak ada luka.
- gerakan lincah dan normal.
- umur antara 4 5 tahun.

2. Merangsang pemijahan. Kematangan gonad dapat dipercepat dengan penggunaan hormone LHRH (Letuizing Hormon Releasing Hormon) melalui suntikan.`

3. Memijahkan. Pemijahan adalah pencampuran induk jantan dan berina yang telah matang sel sperma dan sel telurnya agar terjadi pengeluaran (ejakulasi) kedua sel tersebut. Setelah berada di air, sel sperma akan membuahi sel telur karena sistem pembuahan ikan terjadi diluar tubuh. Pemijahan dilakukan pada kolam khusus pemijahan

4. Penetasan. Telur yang mengapung di kolam pemijahan menetas setelah 24 - 26 jam dari awal pemijahan. Telur yang telah menetas akan menjadi larva yang masih mempunyai cadangan makanan dari kuning telur induk, sehingga belum perlu diberi pakan hingga umur 2 hari.

5. Merawat benih. Setelah berumur 9 hari larva dipindahkan ke kolam pemeliharaan nener . Di kolam ini larva diberi pakan alami berupa plankton. Penumbuhan plankton dilakukan dengan pemupukan dan pengapuran. Pemupukan yang tepat adalah dengan pupuk TON (TAMBAK ORGANIK NUSANTARA) yang mengandung berbagai unsur mineral penting untuk pertumbuhan plankton, diantaranya N,P,K,Mg, Ca, Mg, S, Cl dan lain-lain, juga dilengkapi dengan asam humat dan vulvat yang mempu memperbaiki tekstur dan meningkatkan kesuburan tanah dasar kolam dengan dosis 5 botol TON/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 pada tiap pemasukan air. Waktu peneneran 8 minggu. Pakan yang diberikan berupa tepung dengan kadar protein 30%. Untuk menambah nutrisi pakan pencampuiran pakan dengan NASA dengan dosis 2 - 5 /kg pakan sangat diperlukan, karena NASA mengandung unsur-unsur mineral penting yaitu N,P,K,Mg,Fe,Ca,S dan lain-lain, vitamin, protein dan lemak untuk meningkatkan pertumbuhan dan kesehatan nener.

IV. Pembesaran.
Setelah dipelihara di kolam peneneran selama 8 minggu, bandeng dipindahkan ke kolam pembesaran. Teknis pembesaran bandeng meliputi beberapa hal, yaitu :
1. Persiapan lahan.
Tahap ini dilakukan sebelum pemasukan air. kegiatan yang dilakukan selama persiapan lahan adalah :
- Pencangkulan dan pembalikan tanah. Bertujuan untuk membebaskan senyawa dan gas beracun sisa budidaya hasil dekomposisi bahan organik baik dari pakan maupun dari kotoran. Selain itu dengan menjadi gemburnya tanah, aerasi akan berjalan dengan baik sehingga kesuburan lahan akan meningkat.
- Pengapuran. Selama budidaya, ikan memerlukan kondisi keasaman yang stabil yaitu pada pH 7 - 8. Untuk mengembalikan keasaman tanah pada kondisi tersebut, dilakukan pengapuran karena penimbunan dan pembusukan bahan organik selama budidaya sebelumnya menurunkan pH tanah. Pengapuran juga menyebabkan bakteri dan jamur pembawa penyakit mati karena sulit dapat hidup pada pH tersebut. Pengapuran dengan kapur tohor, dolomit atau zeolit dengan dosis 1 TON /ha atau 10 kg/100 m2.
- Pemupukan. Fungsi utama pemupukan adalah memberikan unsur hara yang diperlukan bagi pertumbuhan pakan alami, memperbaiki struktur tanah dan menghambat peresapan air pada tanah-tanah yang tidak kedap air (porous). Penggunaan TON untuk pemupukan tanah dasar kolam sangat tepat, karena TON yang mengandung unsur-unsur mineral penting, dan asam-asam organik utama memberikan bahan-bahan yang diperlukan untuk peningkatan kesuburan lahan dan pertumbuhan plankton. Dosis pemupukan TON adalah 5 botol/ha atau 25 gr/100 m2.
- Pengelolaan air. setelah dilakukan pemupukan dengan TON, air dimasukkan hingga setinggi 10 - 20 cm kemudian dibiarkan beberapa hari, untuk menumbuhkan bibit-bibit plankton. Air dimasukkan hingga setinggi 80 cm atau menyesuaikan dengan kedalaman kolam.

2. Pemindahan nener. Setelah plankton tumbuh (warna air hijau) dan kecerahan sedalam 30 - 40 cm, nener di kolam peneneran dipindahkan ke kolam pembesaran dengan hati-hati dengan adaptasi terhadap lingkungan yang baru.

3. Pemberian Pakan. Sesuai dengan sifat bandeng yang termasuk hewan herbivore, maka ikan ini suka memakan tumbuh-tumbuhan yang ada di kolam. Tumbuhan yang disukai bandeng adalah lumut, ganggang dan klekap. Untuk mempercepat pertumbuhan, perlu pakan buatan pabrik, dengan standar nutrisi yang dibutuhkan untuk tumbuh optimal dengan kadar protein .minimal 25 - 28 %.

Sebagai hewan herbivora, unsur tumbuhan dalam pakan memang sangat penting,. Oleh karena itu, sebaiknya bahan baku unsur protein harus didominasi dari sumber tumbuhan atau nabati dari tepung kedelai atau bungkil kacang tanah. Sebagai acuan pemberian pakan adalah : Jumlah pakan 5 - 7% dari berat badan. Waktu pemberian 3 - 5 kali sehari.

Penambahan NASA pada pakan buatan merupakan pilihan yang tepat untuk meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan tubuh bandeng. NASA mengandung mineral-mineral penting, protein, lemak dan vitamin akan menambah kandungan nutrisi pakan. Dosis pencampuran NASA dengan pakan buatan adalah 2 - 5 cc/kg pakan dengan cara :
1. Timbang pakan sesuai dengan kebutuhan bandeng.
2. Basahi pakan dengan sedikit air agar pencampuran dengan NASA dapat merata.
3. Campurkan NASA sesuai jumlah pakan yang diberikan dengan dosis 2 - 5 cc/kg pakan.
4. Pakan siap untuk diberikan.
Pemberian pakan dengan menyebarkan secara merata pada seluruh areal kolam, agar seluruh bandeng dapat pakan.

V. Pengendalian hama dan Penyakit. 
Penyakit penting yang sering menyerang bandeng adalah :
1. Pembusukan sirip, disebabkan oleh bakteri. Gejalanya sirip membusuk dari bagian tepi.
2. Vibriosis. Disebabkan oleh bakteri Vibriosis sp , gejalanya nafsu makan turun, pembusukan sirip, dan bagian perut bengkak oleh cairan.
3. Penyakit oleh Protozoa. Gejalanya nafsu makan hilang, mata buta, sisik terkelupas, insang rusak, banyak berlendir.
4. Penyakit oleh cacing renik. Sering disebabkan oleh cacing Diploctanum yang menyerang bagian insang sehingga menjadi pucat dan berlendir.
Penyakit dari bakteri, parasit dan jamur disebabkan lingkungan yang buruk, dan penurunan daya tahan tubuh ikan. Penurunan kualitas lingkungan disebabkan oleh tingginya timbunan bahan organik dan pencemaran lingkungan dari aliran sungai.. Bahan organik dan kotoran akan membusuk dan manghasilkan gas-gas yang berbahaya. Ketahanan tubuh ikan ditentukan konsumsi nutrisinya. Maka cara pengendalian penyakit harus menitikberatkan pada kedua faktor tersebut. Untuk mengatasi penurunan kualitas lingkungan dapat dilakukan perlakuan TON dengan dosis 5 botol/ha atau 25 gr (2 sendok makan)/100 m2 yang mengandung unsur mineral dan asam-asam organik penting yang mampu menetralkan berbagai gas berbahaya hasil pembusukan kotoran dalam kolam dan unsur mineral akan menyuburkan plankton sebagai pakan alami. Untuk mencukupi kebutuhan nutrisi dalam jumlah yang ideal, perlu diberikan pakan dengan standar protein yang sesuai serta dengan penambahan/pencampuran NASA pada pakan buatan. NASA dengan kandungan mineral-mineral penting, vitamin, asam organic, protein dan lemak akan menambah dan melengkapi nutrisi pakan, sehingga ketahanan tubuh untuk hidup dan berkembang selalu tercukupi.

Titik Terang Produksi Udang

Fokus meningkatkan skala usaha petambak tradisonal menjadi semi-intensif, dan menjadikannya  sebagai faktor penyumbang utama angka produksi udang nasional

Meski sedikit, angka produksi udang nasional mengalami peningkatan. Data yang dikeluarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebut kinerja udang tanah air naik 2,6 % dari 338.060 ton pada 2009 menjadi 352.600 ton pada 2010. Kenaikan ini diklaim sebagai prestasi, pasalnya angka ini jauh lebih baik ketimbang kinerja 2009 yang produksinya negatif 30 %  dari produksi 2008.
Setelah hampir 3 tahun terakhir produksi udang nasional tertatih-tatih akibat terbelenggu penyakit, memasuki 2011 titik terang mulai tampak. Rilis laporan NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration) Fisheries juga menunjukkan rapor biru ekspor udang Indonesia ke Amerika Serikat. Pada Januari 2011 volume ekspor mencapai 6.042 MT (Metrik Ton) 18,4 % lebih banyak ketimbang Januari 2010 yang 5.091 MT. Meski belum setinggi angka ekspor pada Januari 2009 yang mencapai 6.608 MT, setidaknya peningkatan ini bisa jadi awal tren positif produksi udang  sepanjang 2011.
Menurut Ketua Umum Shrimp Club Indonesia (SCI), Iwan Sutanto, geliat produksi ini salah satunya dipicu harga udang yang membaik sejak akhir 2010. Harga udang vannamei di tingkat petambak naik antara Rp 10.000 sampai Rp 12.000 per kg-nya. Kenaikan harga yang terjadi sejak akhir September sampai Desember 2010 tersebut berlaku untuk semua ukuran.
Iwan menggambarkan, untuk udang vannamei size atau ukuran 40 (1 kg isi 40 udang) misalnya, harganya naik dari Rp 55.000 per kg menjadi Rp 68.000 per kg. Tidak heran jika saat ini para petambak anggota SCI mengejar pada size 40 (pemeliharaan sekitar 145 hari) yang tadinya size 50 (pemeliharaan sekitar 125 hari), dengan harapan harga jual lebih tinggi.
“Petambak kian bergairah untuk meningkatkan produksi melihat harga udang yang tinggi itu,” kata Iwan kepada TROBOS belum lama ini melalui sambungan telpon. Gambarannya, lanjut Iwan, produksi udang grup SCI pada 2010 mencapai 130 ribu ton atau naik sekitar 20 % dari 2009. Jumlah produksi itu berasal dari 500 anggota SCI yang mengelola lahan tambak total sekitar 11 ribu hektar tersebar di wilayah Lampung, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumbawa, dan Sulawesi Selatan.
Masih menurut Iwan, kenaikan harga yang cukup tajam ini disebabkan adanya permintaan udang yang terus meningkat. Sementara produksi relatif lambat peningkatannya. Kondisi lingkungan yang kian menurun dan ancaman penyakit memaksa petambak mengerem tingkat kepadatan udang di tambaknya. “Padat tebar benur yang dulu 150 sampai 170 ekor/m2 kini berhati-hati di kisaran 100 sampai 120 ekor/m2,” ungkap Iwan.
     
Genjot Semi Intensif
Udang vannamei yang digadang punya produktivitas tinggi nyatanya sepanjang 2009 sampai 2010 tidak bisa berkutik dihajar virus myo. Sampai hari ini, petambak belum sepenuhnya lepas dari jeratan penyakit yang mematikan udang secara perlahan itu.
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Ketut Sugama mengatakan, penggunaan indukan vannamei produksi dalam negeri adalah modal awal mengendalikan penyakit-penyakit asal negara lain. Saat ini baik KKP maupun swasta sudah mampu menghasilkan indukan vannamei domestikasi jadi tidak tergantung indukan impor lagi. Indukan produksi dalam negeri ini kualitasnya tidak kalah dengan indukan impor. “Daya adaptasinya lebih baik terhadap lingkungan tambak Indonesia,” Ketut menunjuk keunggulan. Sementara untuk menggenjot produksi, Ketut mengaku, tengah mengarahkan pergeseran skala dan pola usaha budidaya yang masih tradisional menjadi semi-intensif.
Direktur Global Gen, Leonardo Bong Tiro Jr sepakat dengan menjadikan petambak tradisonal sebagai faktor penyumbang angka produksi udang nasional melalui peningkatan skala usaha. Menurut Bong, target produksi udang 699 ribu ton pada 2014 tidak bisa sepenuhnya mengandalkan tambak intensif apalagi tradisional. “Meski bisa digenjot dari sisi angka produksi namun tambak intensif ini berisiko tinggi dan padat modal. Pemain udang nasional jarang yang bisa bertahan lama dengan pola ini,” ungkap pimpinan perusahaan pembenihan udang ini.

SOP Pemilihan Lokasi


A.   Definisi :
Memilih lokasi tanam yang menjamin agar usaha produksi anggur dapat dioptimalkan dan mencegah kegagalan proses produksi, serta dapat menghasilkan buah sesuai dengan mutu yang ditetapkan.

B.   Tujuan.
Mendapatkan lahan yang sesuai agroklimatnya, subur dengan lapisan top soil tanah yang cukup tebal dan banyak mengandung humus dan sesuai untuk memproduksi anggur.

C.  Alat dan Bahan.
  1. Data iklim 10 tahun terakhir
  2. pH meter.
  3. Altimeter

D.  Fungsi.
  1. Data iklim untuk mengetahui tingkat curah hujan dan suhu udara tahunan di suatu daerah.
  2. pH tanah untuk mengukur tingkat keasaman tanah.
  3. Altimeter, untuk mengukur ketinggian tempat

E.  Prosedur Pelaksanaan
  1. Menghubungi stasiun meteorologi terdekat untuk mendapatkan data iklim 10 tahun terakhir.
  2. Mengukur pH tanah.
  3. Mengukur ketinggian tempat
  4. Setiap kegiatan harus dicatat

F.     Sasaran
  1. Rata-rata pH berkisar 5,5 – 6,5.
  2. Kelembaban udara rata-rata 80 %.
  3. Intensitas penyinaran matahari 80 % - 100% dari pagi sampai sore rata-rata 11 jam sehari dan temperatur udara harian 25O – 31OC.
  4. Curah hujan berkisar ± 1.200 mm/tahun dengan   5 – 8  bulan basah.
  5. Tanah yang bertekstur lempung berpasir, dengan komposisi 30% - 50% lempung, 30% - 50% pasir, 7% - 12 % liat. Subur dan gembur, tidak tahan air yang menggenang.
  6. Ketinggian tempat 4 – 50 m dpl.

Syarat Tumbuh Melon





Budidaya melon secara umum berdekatan dengan kegagalan panen. Petani sering kali mengangpap faktor hama sebagai biang keladi. Padahal masalah lain yang juga bisa menggagalkan usaha petani adalah syarat tumbuh. 
Tanaman melon membutuhkan lokasi yang mendapat sinar matahari penuh.  Sekitar 10 sampai 12 jam per hari. Sedangkan suhu udara ideal adalah 28 sampai 30 0 C per hari.  Namun kisaran suhu dan kelembaban wilayah tanam harus cukup longgar. Yaitu  30 sampai 37 0 C untuk suhunya. Sedangkan kelembaban antara 45 sampai 65 %.
Ketinggian lokasi tanam paling ideal adalah 1. 000 m dpl. dengan derajat keasaman 5,8 sampai 7,2. Tetapi yang paling ideal adalah 6,0 sampai 6,8. Bila keasaman lebih rendah dari angka ini, lahan tanam perlu diberi kapur dolomit 1 sampai 2 ton per hektar

Profil Tanah

Jika tanah digali sampai kedalaman tertentu, dari penampang vertikalnya dapat dilihat gradasi warna yang membentuk lapisan-lapisan (horison) atau biasa disebut profil tanah. Di tanah hutan yang sudah matang terdapat tiga horison penting yaitu horison A, B dan C

Horison A atau Top Soil adalah lapisan tanah paling atas yang paling sering dan paling mudah dipengaruhi oleh faktor iklim dan faktor biologis. Pada lapisan ini sebagian besar bahan organik terkumpul dan mengalami pembusukan. Horison B disebut juga dengan zona penumpukan (illuvation zone). Horison ini memiliki bahan organik yang lebih sedikit tetapi lebih banyak mengandung unsur yang tercuci daripada horizon A. Horison C adalah zona yang terdiri dari batuan terlapuk yang merupakan bagian dari batuan induk. Kegiatan pertanian umumnya berada pada horison A dan B karena mengandung banyak humus sehingga tergolong bagian tanah yangsubur.

Mengkudu, Buah yang Berkhasiat


Penggunaan mengkudu untuk pengobatan sebenarnya sudah sejak dulu, tapi untuk pengobatan secara modern baru merebak sekitar 10 tahun silam, di mana perusahaan atau industri farmasi banyak menggunakannya untuk bahan baku obat herbal. Namun demikian masih banyak masyarakat kita yang belum mengetahui buah mengkudu untuk pengobatan terbukti mereka membiarkan buah mengkudunya berjatuhan tanpa diambil faedahnya.


Penggunaan mengkudu untuk pengobatan sebenarnya sudah sejak dulu, tapi untuk pengobatan secara modern baru merebak sekitar 10 tahun silam, di mana perusahaan atau industri farmasi banyak menggunakannya untuk bahan baku obat herbal. Namun demikian masih banyak masyarakat kita yang belum mengetahui buah mengkudu untuk pengobatan terbukti mereka membiarkan buah mengkudunya berjatuhan tanpa diambil faedahnya.

Juice buah mengkudu diketahui mengandung 140 zat yang berguna untuk kesehatan tubuh, bahkan dari hasil penelitian para ahli pengobatan di luar negeri mempercayai zat-zat dalam buah itu terbukti benar-benar mengatasi berbagai jenis penyakit dan hal itu sudah dipercaya oleh para ahli tersebut sejak dulu.

Secara ilmiah diketahui minuman buah ini merangsang tubuh memproduksi “Nitric Oxide (NO)” yakni sejenis senyawa yang berguna agar dinding saluran darah menjadi relax dan melebar, bahkan terbukti mampu menurunkan tekanan darah sebagaimana secara umum mengkudu sudah diketahui oleh banyak orang.

Khasiat lain yang tidak kalah penting membantu berbagai keluhan dan gangguan jantung. Kita ketahui jantung masih merupakan penyakit penyebab utama kematian pada manusia. Mengkudu juga dapat meningkatkan vitalitas kaum pria, dan bermanfaat meringankan penderita penyakit kencing manis.

Mengkudu cukup ampuh untuk membunuh bakteri meskipun jumlahnya sedikit dikarenakan terdapat scopoletin yang fungsinya membunuh bakteri. Masih banyak manfaat lain dari mengkudu ini khususnya dalam kaitannya sebagai penyembuh penyakit pada manusia.

Khasiatnya yang cukup banyak, perlu disosialisasikan kepada mayarakat, agar turut melestarikan warisan pengobatan tradisional dengan memanfaatkan potensi dari tanaman yang biasanya dibiarkan. Selain itu, memberikan inspirasi bagi masyarakat untuk membudidayakan dan menjajaki peluang bisnis berupa pengolahan pasca panen.

Selasa, 24 Mei 2011

Mentan: Jangan Terpaku Konsumsi Beras

Mentan: Jangan Terpaku Konsumsi Beras

REPUBLIKA.CO.ID,JAMBI - Menteri Pertanian (Mentan), Suswono, mengingatkan masyarakat agar tidak terpaku mengonsumsi beras. Tetapi, masyarakat sebaiknya juga mengembangkan keragaman pangan guna mewujudkan swasembada.
"Perlu keragaman pangan dan jangan terlalu terpaku pada beras. Untuk diketahui, konsumsi beras Indonesia merupakan konsumsi beras tertinggi di dunia yakni 140 kilogram per kapita per tahun," kata Suswono.
Ia menjelaskan, target utama Kementerian Pertanian sebagaimana tertuang dalam rencana strategis pada 2010-2014 adalah pencapaian swasembada dan swasembada berkelanjutan. Selain itu, katanya, peningkatan diversifikasi pangan. "Jangan hanya beras saja yang menjadi makanan pokok, harus ada keragaman lainnya," katanya.
Ia mengatakan, perlu ada peningkatan nilai tambah, daya saing, dan ekspor produk pertanian. Produk pertanian yang diekspor, katanya, hendaknya bukan bahan mentah atau bahan baku melainkan produk jadi.
"Contohnya adalah memproduksi bahkan mengekspor ban, jangan hanya karet mentah," katanya.
Ia mengatakan, sasaran produksi beras lima tahun mendatang naik minimal lima persen, jagung 10 persen, dan kedelai 20 persen. "Bahkan target tahun 2011 produksi beras naik tujuh persen," katanya.
Ia mengharapkan, lima tahun ke depan surplus 10 juta ton beras untuk mewujudkan ketahanan pangan.
Suswono menyatakan perlunya perluasan dan pencetakan lahan, peningkatan produktivitas, dan penurunan konsumsi beras, serta peningkatan kesejahteraan petani.
Redaktur: Didi Purwadi
Sumber: Antara

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Blogger Templates